#top-social-profiles{height:42px;text-align:right}#top-social-profiles img{margin:0 6px 0 0px !important} #top-social-profiles img:hover{opacity:0.8} #top-social-profiles .widget-container{background:none;padding:0;border:0} .social-profiles-widget img{margin:0 6px 0 0} .social-profiles-widget img:hover{opacity:0.8

Sabtu, 16 April 2016

Kisah Madrasah

Share it Please
Madrasah Jembatan menuju Impian
          Dengan cemas aku menantikan hari ini, karena hari ini pengumuman hasil kelulusan sekolah baruku. Secercah cahaya  mengahampiriku, terdengar suara berdering dari telepon genggamku. Ketika aku sedang mengikuti tes di salah satu SMA di kotaku.Yah, Kabar gembira itu datang menghampiriku. Aku lulus di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia Jambi yang kebanyakan orang sering menyebutnya mancek tetapi biasanya siswa-siswi disini lebih suka menyebutnya ICJ. Aku tidak berhenti mengucap kalimat-kalimat syukur kepada Allah. Segala usaha yang telah aku lakukan ternyata membuahkan hasil. Tidak lupa aku memberi kabar gembira ini kepada keluargaku terutama ibuku, orang tua satu-satunya yang masih aku miliki. Ingin rasanya aku pulang saat itu juga.Tapi, aku harus mengikuti tes di salah satu SMA. Sebenarnya aku bisa langsung pulang kerumah tapi tidak ada salahnya aku mengikuti tes ini terlebih dahulu. Aku harus konsentrasi lagi untuk menghadapi  tes yang akan aku jalani.
          Pagi yang indah di  selimuti kabut tipis mengingatkanku tentang alasan aku untuk masuk ke Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendiki Jambi. Aku memikirkan bahwa Madrasah itu sekolah yang ketinggalan zaman. Pelajarannya selalu tentang agama, tidak seperti sekolah-sekolah biasa lainnya dan  pastinya tidak sesuai untuk anak remaja zaman sekarang.  Dibalik sebongkah batu besar yang isinya pertanyaan itu terlintas dipikiranku bahwa detik demi detik berlalu, hari dimana aku akan berjuang lagi untuk menimba ilmu disekolah baruku dan rasa khawatir didalam hatiku, karena ICJ merupakan madrasah yang siswa-siswinya di asramakan. Aku khawatir akan siapa yang mengurus semua keperluanku, bagaimana kalau aku sakit dan masih banyak lagi. Tapi, semua itu tertutupi oleh semangat yang berkobar didalam hatiku untuk mencapai sebuah impian yang akan aku wujudkan suatu hari nanti. Dan mungkin sekolah ini merupakan jembatan yang mengahantarkan aku akan impian itu. Karena sebuah impian tidak terwujud tanpa adanya pengorbanan, kerja keras dan selalu berdo’a kepada Allah.
          Seberkas cahaya masuk kedalam jendelaku dan menyinari tepat wajahku. Hari ini tiba, 14 Juli 2012  semua perasaan hinggap di hatiku. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan menimba ilmu di sebuah Madrasah. Aku bulatkan hati dan tekatku dan mengucap bismillah. Pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sebuah madrasah ini. Tatapan mataku tidak lepas dari mata seorang wanita yang bulat dengan binar-binar rasa cemas tampak dimatanya karena tinggal beberapa menit lagi aku akan berpisah dengannya. Air mata itu mulai berlinang di wajahnya, aku tidak sanggup melihatnya aku yakinkan ibuku kalau aku akan baik-baik saja. Entah dari mana kekuatan itu muncul padahal sebenarnya diriku saat itu tidak mampu menguatkan diriku sendiri. Aku berjanji  pada diriku sendiri akan selalu berusaha semaksimal mungkin dan membuatnya selalu tersenyum.
          Aku rebahkan diriku ke ranjang dan menatap keatas dek yang berwarna putih. Terlintas dibenakku tentang hal-hal yang pernah aku pikirkan tentang madrasah. Bagiku itu salah besar karena beberapa hari disini aku telah mendalami agama islam secara mendalam terutama dalam berpakaian. Entah apa jadinya diriku jika aku tidak berada disini. Aku yang dulunya pergi kesekolah dengan rok yang hanya sebatas lutut, baju yang berlengan pendek dan rambut yang terurai panjang. Betapa banyak dosa yang telah aku perbuat dan betapa banyak dosa yang aku tanggung ketika orang melihat auratku. Dulu aku berpikir untuk apa memakai jilbab jika akhlaknya buruk. Baru aku sadari bahwa antara jilbab dan akhlak itu berbeda. Jilbab merupakan kewajiban untuk perempuan muslim dan akhlak tergantung dari setiap diri manusia. Batinku kembali bertanya haruskah aku menyalahkan keadaanku diwaktu lalu. Tiba-tiba aku teringat seseorang mengatakan sesuatu kepadaku bahwa jangan pernah menyalahkan keadaan tapi, belajarlah dari keadaan tersebut. Karena dari setiap keadaan yang terjadi pasti terdapat pelajaran untuk kita. Sedikit demi sedikit  aku mencoba merubah diriku kearah yang lebih baik karena hal-hal besar berasal dari hal-hal yang kecil.
          Terdengar dari kejauhan Langkah kaki yang melangkah dengan semangat untuk menimba ilmu dari setiap siswa-siswi ICJ menuju kelasnya masing-masing yang bercatkan kuning dan merah. Didepannya terdapat taman kecil untuk menghilangkan kejenuhan setelah jam pelajaran.  Setiap kelas hanya disi oleh 20 sampai 24 siswa karena ICJ hanya menerima siswa-siswinya 60 orang dalam setiap tahunnya dan baru tahun ini ICJ menerima 120 orang. Di sekolah berbasis madrasah ini aku belajar akan banyak hal. Tidak hanya belajar pelajaran agama tetapi juga pelajaran umum.Tidak seperti didalam benakku dulu, Ternyata sekolah berbasis madrasah merupakan sekolah yang sangat bagus untuk membentuk karakter dari suatu bangsa. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia beragama Islam. Sungguh ironis, Negara Indonesia merupakan Negara yang paling besar yang mayoritas penduduknya beragama islam dan menepati urutan nomor 1 di dunia. Tapi, mengapa masyarakat Indonesia menganggap sekolah berbasis madrasah tidak setara dengan sekolah-sekolah biasa lainnya. Entahlah mungkin suatu hari nanti aku dapat menjawab pertanyaan itu dan saat aku telah menemukan jawabannya nanti akan kutunjukkan pada dunia bahwa Islam itu adalah agama yang benar.
          Dari kejauhan tampak seorang perempuan parubaya  jalan menuju kelasku. Sebelum perempuan itu melangkahkan kakinya dan masuk kedalam kelas kami. Aku dan teman-temanku menghampirinya dan mengucapkan salam lalu meletakkan punggung tangannya ke kening kami secara bergantian. Perempuan ini sangat  bersahaja dan kelihatan dari paras wajahnya ia memilki karakter yang lembut namun tegas. Ia banyak memiliki pengatahuan tentang agama. Jadi aku sering bertanya tentang Islam kepadanya. Rasanya aku malu dengan diriku sendiri, aku beragama islam tapi aku hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang islam.
          Minggu yang cerah menghampiri kami, terlukis garis melengkung disetiap bibir anak-anak ICJ. Karena hari ini kami bebas dari semua pelajaran yang mengahampiri kami selama enam hari sebelumnya. Pada hari ini juga kami mengadakan acara pentas seni.Acara ini sengaja dibuat untuk menyegarkan pikiran-pikiran kami. Dari setiap kelas telah mempersiapkan penampilannya yaitu nasyid. Ketika mendengar kata nasyid aku berpikir pasti ini akan menjadi penampilan yang sangat tidak menarik. Karena pada zaman sekarang yang lagi popular band-band atau tarian modern dan masih banyak lagi. Penampilan-penampilan seperti itulah yang menggugah semangat bagi para pendengar dan penikmatnya bukan kesenian islam yang sangat monoton. Terik matahari yang membara membuat semangat dari siswa-siswi ICJ semakin bersemangat. Tapi, itu tidak membuat aku bersemangat. Acara pun berlangsung di dalam gedung bercatkan putih yang cukup menampung siswa-siswi ICJ dan kami duduk diatas karpet yang berwarna biru agak kusam sepertinya karpet ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu.Terdengar gemuruh sorak dan tepuk tangan ketika penampilan pertama dari kakak kelasku. Semula aku hanya tersenyum mendengar dan memperhatikan bait pertama keluar dari bibr mereka, Subhanallah … kakak-kakak kelasku sangat bersemangat menyanyikan nasyid berjudul “assalamu’alaikum” dengan nada yang sangat asik  dan suara merdu ditambah lagi dengaan suara acapella yang mereka buat dengan penuh kreatifitas. Aku menikmati setiap penampilan yang ditampilkan itu hal baru bagiku yagn mampu membuat hatiku sangat  damai dan tentram. Ketika aku sangat menikmati, tiba-tiba suhu tubuhku berubah sangat dingin dan tegang karena sekarang giliran kelasku lagi yang tampil. Perwakilan dari kelasku, aku dan teman-teman perempuan. Sorak-sorai suara semakin membahana didalam gedung serba guna yang kami sering  sebut GSG. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tampil dengan maksimal tapi tetap saja aku gerogi. Sebenarnya ini penampilanku yang kedua untuk nasyid, sebelumnya aku pernah menampilkan di waktu aku sekolah dasar, tapi karena aku tidak tahu apa yang aku tampilkan yang hanya aku tahu pada saat itu aku dan teman-teman bernyanyi islami. Dan pada acara inilah aku tahu apa itu nasyid.
          Suara lantunan Al-qur’an telah sampai di telingaku. Hatiku tergugah untuk melangkahkan kaki ini menuju bangunan berhiasan bunga berwarna hijau.Di tempat ini aku merasakan damai, seolah-olah tidak ada masalah. Kusandarkan tubuh ini ketiang-tiang, masih terngiang suara sorak-sorak tadi, ya Allah, betapa minim pengetahuanku tentang-Mu. Disini pikiran dan hatiku terbuka tentang engkau ya Rabb. Bahkan untuk kesenian islam saja aku tidak tahu. Pemikiran-pemikiran lamaku semuanya salah dan segera ku buang sejauh mungkin. Jangan pernah menyimpulkan sesuatu jika engkau belum tahu apa yang engkau simpulkan itulah pelajaran yang aku petik dari apa yang terjadi pada diriku.
          Pagi yang cerah dan semoga secerah hati siswa-siswi ICJ, Aamiin. Belum sampai aku berjalan kekelas. Udara menghantarkan suara bel keseluruh arah dan itu tandanya aku harus bergegas untuk sampai dikelasku. Hari ini berlangsung seperti biasanya, Aku duduk termenung memikirkan bagaimana aku bisa mengahafal al-Qur’an dengan mudah dan tidak mudah untuk lupa walapun satu huruf. Karena jangankan lupa satu huruf, salah menyebutkann satu huruf saja akan menimbulkan arti yang baru. Di madrasah ini mempunyai ekstrakurikuler untuk menghafal al-Qur’an atau kami sering menyebutnya Tahfidz Al-Qur’an. Karena kata guruku jika suatu saat al-Qur’an dimusnahkan maka Al-Qur’an itu tidak akan pernah musnah karena isi al-Qur’an sudah ada didalam ingatannya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Disini juga ada mata pelajaran Al-Qur’an Hadis. Pada bidang ini, sesuai namanya kami mempelajari Al-Qur’an Hadis baik dalam sistem penulisan, terjemahan dan mukjizat yang terkandung dalam Al-Qur’an. Semua tentang kehidupan yang kekal dan fana ini sudah ada dalam al-Qur’an. Tinggal bagaimana kita sebagai makhluk sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaanNya yang lain menggunakan anugrah yang telah diberikan berupa akal pikiran dimanfaatkan untuk berpikir.

          Tak terasa sudah setahun aku di sini, hal-hal yang dulu aku takuti tinggal di asrama bersekolah di madrasah. Hal-hal yang masih misteri, sering kali kita menganggap hal itu tidak mungkin kita lakukan tetapi, ketika hal itu terjadi pada kita. Percayalah kita bisa melakukan itu. Banyak hal-hal yang telah aku jalani suka maupun duka, aku jalani semua ini  dengan rasa ikhlas. Semakin hari, aku semakin sadar betapa sempurna nikmat Allah kepada semua yang diciptkanNya. Sungguh, aku makin kagum dengan semua yang Allah diciptakannya. Tapi, kenapa hanya sedikit orang yang sadar akan hal itu, gumamku. Terlintas di dalam pikiranku aku membayangkan, semua yang dilakukan di dunia sesuai dengan Al-Qur’an, Hadis Rasulullah dan Sunnah Rasulullah mungkin kehidupan ini akan lebih baik. Dan semua itu dimulai dari dini salah satunya menyekolahkan seorang anak di madrasah karena madrasah merupakan sekolah yang berbasis islami. Selama aku bersekolah disini, aku sering mendengar orang meremehkan madrasah, menurut mereka madrasah tidak pantas  di setarakan dengan sekolah-sekolah umum lainnya. Dan mungkin itu juga merupakan tanggapan para orang tua yang tidak mau menyekolahkan anaknya di madrasah. Aku pernah mendengarkan teman-temanku berbicara mereka berbicara tentang status madrasah mereka berpikir di zaman seperti ini yang terpenting adalah ilmu pengetahuan umum bukan agama.  Padahal menurutku ilmu pengetahuan umum harus seimbang dengan ilmu pengetahuan agama. Karena tanpa agama, hidup kita akan terombang-ambing akibat derasnya ombak yang selalu menghantam kita. Sebaliknya jika seorang yang memiliki pengetahuan yang seimbang antara umum  dan agama ia akan selalu berdiri kokoh diatas keimanannya menggunakan pengetahuan umum untuk mengejar segala impiannya di dunia. Pribadi seperti itulah yang sedang dibutuhkan oleh negara kita ini. Aku sering menyaksikan di layar kaca orang-orang berdasi dengan mudah mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Sungguh, ironis negara ini memilki orang yang cerdas tapi tidak memiliki iman. Negara ini banyak memilki kekayaan alam tapi masyarakatnya tidak mau bekerja keras untuk mengolahnya sehingga orang asing yang menguasainya. Kita yang punya tapi kita yang miskin. Coba saja generasi saat ini mau bekerja lebih keras dari yang lain, karena tidak ada kerja keras yang gagal yang ada hanya gagal untuk bekerja keras. Ya…Allah jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan aku ingin mendirikan sekolah-sekolah madrasah yang berkualitas tinggi. Setiap murid yang dihasilkan akan menjadi insan-insan yang berkualitas baik dalam keimanan dan mempunyai misi menyejahterakan bangsa ini sebagaimana tujuan adanya sekolah yang aku tempati saat ini yang aku sangat cintai MAN Insan Cendikia Jambi.

by : JLi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers