Madrasah Jembatan menuju Impian
Dengan cemas aku
menantikan hari ini, karena hari ini pengumuman hasil kelulusan sekolah baruku.
Secercah cahaya mengahampiriku,
terdengar suara berdering dari telepon genggamku. Ketika aku sedang mengikuti
tes di salah satu SMA di kotaku.Yah, Kabar gembira itu datang menghampiriku. Aku
lulus di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia Jambi yang kebanyakan orang
sering menyebutnya mancek tetapi biasanya siswa-siswi disini lebih suka
menyebutnya ICJ. Aku tidak berhenti mengucap kalimat-kalimat syukur kepada
Allah. Segala usaha yang telah aku lakukan ternyata membuahkan hasil. Tidak
lupa aku memberi kabar gembira ini kepada keluargaku terutama ibuku, orang tua
satu-satunya yang masih aku miliki. Ingin rasanya aku pulang saat itu
juga.Tapi, aku harus mengikuti tes di salah satu SMA. Sebenarnya aku bisa
langsung pulang kerumah tapi tidak ada salahnya aku mengikuti tes ini terlebih
dahulu. Aku harus konsentrasi lagi untuk menghadapi tes yang akan aku jalani.
Pagi yang indah di selimuti kabut tipis mengingatkanku tentang
alasan aku untuk masuk ke Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendiki Jambi. Aku
memikirkan bahwa Madrasah itu sekolah yang ketinggalan zaman. Pelajarannya
selalu tentang agama, tidak seperti sekolah-sekolah biasa lainnya dan pastinya tidak sesuai untuk anak remaja zaman
sekarang. Dibalik sebongkah batu besar
yang isinya pertanyaan itu terlintas dipikiranku bahwa detik demi detik
berlalu, hari dimana aku akan berjuang lagi untuk menimba ilmu disekolah baruku
dan rasa khawatir didalam hatiku, karena ICJ merupakan madrasah yang
siswa-siswinya di asramakan. Aku khawatir akan siapa yang mengurus semua
keperluanku, bagaimana kalau aku sakit dan masih banyak lagi. Tapi, semua itu
tertutupi oleh semangat yang berkobar didalam hatiku untuk mencapai sebuah
impian yang akan aku wujudkan suatu hari nanti. Dan mungkin sekolah ini
merupakan jembatan yang mengahantarkan aku akan impian itu. Karena sebuah impian
tidak terwujud tanpa adanya pengorbanan, kerja keras dan selalu berdo’a kepada
Allah.
Seberkas cahaya
masuk kedalam jendelaku dan menyinari tepat wajahku. Hari ini tiba, 14 Juli
2012 semua perasaan hinggap di hatiku.
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, aku akan menimba ilmu di sebuah
Madrasah. Aku bulatkan hati dan tekatku dan mengucap bismillah. Pertama kalinya
aku menginjakkan kakiku di sebuah madrasah ini. Tatapan mataku tidak lepas dari
mata seorang wanita yang bulat dengan binar-binar rasa cemas tampak dimatanya karena
tinggal beberapa menit lagi aku akan berpisah dengannya. Air mata itu mulai
berlinang di wajahnya, aku tidak sanggup melihatnya aku yakinkan ibuku kalau
aku akan baik-baik saja. Entah dari mana kekuatan itu muncul padahal sebenarnya
diriku saat itu tidak mampu menguatkan diriku sendiri. Aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu berusaha
semaksimal mungkin dan membuatnya selalu tersenyum.
Aku rebahkan diriku
ke ranjang dan menatap keatas dek yang berwarna putih. Terlintas dibenakku
tentang hal-hal yang pernah aku pikirkan tentang madrasah. Bagiku itu salah
besar karena beberapa hari disini aku telah mendalami agama islam secara
mendalam terutama dalam berpakaian. Entah apa jadinya diriku jika aku tidak
berada disini. Aku yang dulunya pergi kesekolah dengan rok yang hanya sebatas
lutut, baju yang berlengan pendek dan rambut yang terurai panjang. Betapa
banyak dosa yang telah aku perbuat dan betapa banyak dosa yang aku tanggung
ketika orang melihat auratku. Dulu aku berpikir untuk apa memakai jilbab jika akhlaknya
buruk. Baru aku sadari bahwa antara jilbab dan akhlak itu berbeda. Jilbab
merupakan kewajiban untuk perempuan muslim dan akhlak tergantung dari setiap
diri manusia. Batinku kembali bertanya haruskah aku menyalahkan keadaanku
diwaktu lalu. Tiba-tiba aku teringat seseorang mengatakan sesuatu kepadaku
bahwa jangan pernah menyalahkan keadaan tapi, belajarlah dari keadaan tersebut.
Karena dari setiap keadaan yang terjadi pasti terdapat pelajaran untuk kita.
Sedikit demi sedikit aku mencoba merubah
diriku kearah yang lebih baik karena hal-hal besar berasal dari hal-hal yang
kecil.
Terdengar dari
kejauhan Langkah kaki yang melangkah dengan semangat untuk menimba ilmu dari
setiap siswa-siswi ICJ menuju kelasnya masing-masing yang bercatkan kuning dan
merah. Didepannya terdapat taman kecil untuk menghilangkan kejenuhan setelah
jam pelajaran. Setiap kelas hanya disi
oleh 20 sampai 24 siswa karena ICJ hanya menerima siswa-siswinya 60 orang dalam
setiap tahunnya dan baru tahun ini ICJ menerima 120 orang. Di sekolah berbasis
madrasah ini aku belajar akan banyak hal. Tidak hanya belajar pelajaran agama
tetapi juga pelajaran umum.Tidak seperti didalam benakku dulu, Ternyata sekolah
berbasis madrasah merupakan sekolah yang sangat bagus untuk membentuk karakter
dari suatu bangsa. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia beragama Islam.
Sungguh ironis, Negara Indonesia merupakan Negara yang paling besar yang
mayoritas penduduknya beragama islam dan menepati urutan nomor 1 di dunia.
Tapi, mengapa masyarakat Indonesia menganggap sekolah berbasis madrasah tidak
setara dengan sekolah-sekolah biasa lainnya. Entahlah mungkin suatu hari nanti
aku dapat menjawab pertanyaan itu dan saat aku telah menemukan jawabannya nanti
akan kutunjukkan pada dunia bahwa Islam itu adalah agama yang benar.
Dari kejauhan tampak
seorang perempuan parubaya jalan menuju
kelasku. Sebelum perempuan itu melangkahkan kakinya dan masuk kedalam kelas
kami. Aku dan teman-temanku menghampirinya dan mengucapkan salam lalu meletakkan
punggung tangannya ke kening kami secara bergantian. Perempuan ini sangat bersahaja dan kelihatan dari paras wajahnya
ia memilki karakter yang lembut namun tegas. Ia banyak memiliki pengatahuan
tentang agama. Jadi aku sering bertanya tentang Islam kepadanya. Rasanya aku
malu dengan diriku sendiri, aku beragama islam tapi aku hanya memiliki sedikit
pengetahuan tentang islam.
Minggu yang cerah
menghampiri kami, terlukis garis melengkung disetiap bibir anak-anak ICJ. Karena
hari ini kami bebas dari semua pelajaran yang mengahampiri kami selama enam
hari sebelumnya. Pada hari ini juga kami mengadakan acara pentas seni.Acara ini
sengaja dibuat untuk menyegarkan pikiran-pikiran kami. Dari setiap kelas telah
mempersiapkan penampilannya yaitu nasyid. Ketika mendengar kata nasyid aku
berpikir pasti ini akan menjadi penampilan yang sangat tidak menarik. Karena
pada zaman sekarang yang lagi popular band-band atau tarian modern dan masih
banyak lagi. Penampilan-penampilan seperti itulah yang menggugah semangat bagi
para pendengar dan penikmatnya bukan kesenian islam yang sangat monoton. Terik
matahari yang membara membuat semangat dari siswa-siswi ICJ semakin
bersemangat. Tapi, itu tidak membuat aku bersemangat. Acara pun berlangsung di
dalam gedung bercatkan putih yang cukup menampung siswa-siswi ICJ dan kami
duduk diatas karpet yang berwarna biru agak kusam sepertinya karpet ini sudah
ada sejak beberapa tahun lalu.Terdengar gemuruh sorak dan tepuk tangan ketika
penampilan pertama dari kakak kelasku. Semula aku hanya tersenyum mendengar dan
memperhatikan bait pertama keluar dari bibr mereka, Subhanallah … kakak-kakak kelasku
sangat bersemangat menyanyikan nasyid berjudul “assalamu’alaikum” dengan nada
yang sangat asik dan suara merdu
ditambah lagi dengaan suara acapella yang mereka buat dengan penuh kreatifitas.
Aku menikmati setiap penampilan yang ditampilkan itu hal baru bagiku yagn mampu
membuat hatiku sangat damai dan tentram.
Ketika aku sangat menikmati, tiba-tiba suhu tubuhku berubah sangat dingin dan
tegang karena sekarang giliran kelasku lagi yang tampil. Perwakilan dari
kelasku, aku dan teman-teman perempuan. Sorak-sorai suara semakin membahana
didalam gedung serba guna yang kami sering
sebut GSG. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tampil dengan maksimal tapi
tetap saja aku gerogi. Sebenarnya ini penampilanku yang kedua untuk nasyid,
sebelumnya aku pernah menampilkan di waktu aku sekolah dasar, tapi karena aku
tidak tahu apa yang aku tampilkan yang hanya aku tahu pada saat itu aku dan
teman-teman bernyanyi islami. Dan pada acara inilah aku tahu apa itu nasyid.
Suara lantunan Al-qur’an
telah sampai di telingaku. Hatiku tergugah untuk melangkahkan kaki ini menuju bangunan
berhiasan bunga berwarna hijau.Di tempat ini aku merasakan damai, seolah-olah
tidak ada masalah. Kusandarkan tubuh ini ketiang-tiang, masih terngiang suara sorak-sorak
tadi, ya Allah, betapa minim pengetahuanku tentang-Mu. Disini pikiran dan
hatiku terbuka tentang engkau ya Rabb. Bahkan untuk kesenian islam saja aku
tidak tahu. Pemikiran-pemikiran lamaku semuanya salah dan segera ku buang
sejauh mungkin. Jangan pernah menyimpulkan sesuatu jika engkau belum tahu apa
yang engkau simpulkan itulah pelajaran yang aku petik dari apa yang terjadi
pada diriku.
Pagi yang cerah dan
semoga secerah hati siswa-siswi ICJ, Aamiin. Belum sampai aku berjalan kekelas.
Udara menghantarkan suara bel keseluruh arah dan itu tandanya aku harus
bergegas untuk sampai dikelasku. Hari ini berlangsung seperti biasanya, Aku
duduk termenung memikirkan bagaimana aku bisa mengahafal al-Qur’an dengan mudah
dan tidak mudah untuk lupa walapun satu huruf. Karena jangankan lupa satu
huruf, salah menyebutkann satu huruf saja akan menimbulkan arti yang baru. Di
madrasah ini mempunyai ekstrakurikuler untuk menghafal al-Qur’an atau kami
sering menyebutnya Tahfidz Al-Qur’an. Karena kata guruku jika suatu saat
al-Qur’an dimusnahkan maka Al-Qur’an itu tidak akan pernah musnah karena isi
al-Qur’an sudah ada didalam ingatannya dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-harinya. Disini juga ada mata pelajaran Al-Qur’an Hadis. Pada bidang
ini, sesuai namanya kami mempelajari Al-Qur’an Hadis baik dalam sistem
penulisan, terjemahan dan mukjizat yang terkandung dalam Al-Qur’an. Semua tentang
kehidupan yang kekal dan fana ini sudah ada dalam al-Qur’an. Tinggal bagaimana
kita sebagai makhluk sempurna dibandingkan dengan makhluk ciptaanNya yang lain
menggunakan anugrah yang telah diberikan berupa akal pikiran dimanfaatkan untuk
berpikir.
Tak terasa sudah
setahun aku di sini, hal-hal yang dulu aku takuti tinggal di asrama bersekolah
di madrasah. Hal-hal yang masih misteri, sering kali kita menganggap hal itu
tidak mungkin kita lakukan tetapi, ketika hal itu terjadi pada kita. Percayalah
kita bisa melakukan itu. Banyak hal-hal yang telah aku jalani suka maupun duka,
aku jalani semua ini dengan rasa ikhlas.
Semakin hari, aku semakin sadar betapa sempurna nikmat Allah kepada semua yang
diciptkanNya. Sungguh, aku makin kagum dengan semua yang Allah diciptakannya.
Tapi, kenapa hanya sedikit orang yang sadar akan hal itu, gumamku. Terlintas di dalam pikiranku aku membayangkan, semua
yang dilakukan di dunia sesuai dengan Al-Qur’an, Hadis Rasulullah dan Sunnah
Rasulullah mungkin kehidupan ini akan lebih baik. Dan semua itu dimulai dari
dini salah satunya menyekolahkan seorang anak di madrasah karena madrasah
merupakan sekolah yang berbasis islami. Selama aku bersekolah
disini, aku sering mendengar orang meremehkan madrasah, menurut mereka madrasah
tidak pantas di setarakan dengan
sekolah-sekolah umum lainnya. Dan mungkin itu juga merupakan tanggapan para orang
tua yang tidak mau menyekolahkan anaknya di madrasah. Aku pernah mendengarkan teman-temanku berbicara mereka
berbicara tentang status madrasah mereka berpikir di
zaman seperti ini yang terpenting adalah ilmu pengetahuan umum bukan agama. Padahal menurutku ilmu pengetahuan umum harus
seimbang dengan ilmu pengetahuan agama. Karena tanpa agama, hidup kita akan
terombang-ambing akibat derasnya ombak yang selalu menghantam kita. Sebaliknya
jika seorang yang memiliki pengetahuan yang seimbang antara umum dan agama ia akan selalu berdiri kokoh diatas
keimanannya menggunakan pengetahuan umum untuk mengejar segala impiannya di
dunia. Pribadi seperti itulah yang sedang dibutuhkan oleh negara kita ini. Aku
sering menyaksikan di layar kaca orang-orang berdasi dengan mudah mengambil
sesuatu yang bukan miliknya. Sungguh, ironis negara ini memilki orang yang
cerdas tapi tidak memiliki iman. Negara ini banyak memilki kekayaan alam tapi
masyarakatnya tidak mau bekerja keras untuk mengolahnya sehingga orang asing
yang menguasainya. Kita yang punya tapi kita yang miskin. Coba saja generasi
saat ini mau bekerja lebih keras dari yang lain, karena tidak ada kerja keras
yang gagal yang ada hanya gagal untuk bekerja keras. Ya…Allah jika suatu hari
nanti aku diberi kesempatan aku ingin mendirikan sekolah-sekolah madrasah yang
berkualitas tinggi. Setiap murid yang dihasilkan akan menjadi insan-insan yang
berkualitas baik dalam keimanan dan mempunyai misi menyejahterakan bangsa ini
sebagaimana tujuan adanya sekolah yang aku tempati saat ini yang aku sangat
cintai MAN Insan Cendikia Jambi.
by : JLi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar